menu

Granat Minta Pemerintah Gencar Sosialisasikan Bahaya Narkoba di Pedesaan

Nasional
Senin, 11 Maret 2019, 11:55 WIB
Penulis. Ahmad Fiqi Purba


Granat Minta Pemerintah Gencar Sosialisasikan Bahaya Narkoba di Pedesaan

Petugas menata barang bukti narkotika yang berhasil disita saat pengungkapan kasus narkoba jaringan internasional di Kantor Dit Tipid Narkoba Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (4/2/2019). Satgas Narcotic Investigation Center (NIC) Bareskrim Polri berhasil mengungkap dua kasus penyelundupan narkoba jaringan internasional yakni pertama kasus 50 kg sabu, 15 ribu pil ekstasi, dua tersangka jaringan Malaysia di Sumatera Utara, dan kasus kedua yakni 16 kg sabu yang disita dari enam tersangka yang menyelundupkan sabu dari Malaysia ke Aceh melalui jalur laut. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww.

SOKSINEWS.COM, Gerakan Nasional Anti Narkotika Sumatera Utara meminta kepada pemerintah melalui Badan Narkotika Nasional dan Polri agar semakin gencar melaksanakan sosialisasi tentang bahaya narkoba di desa yang selama ini dianggap rawan.

"Saat ini, desa dijadikan target oleh sindikat narkoba untuk mengedarkan obat-obat yang sangat sangat berbahaya itu," kata Ketua DPD Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) Sumut, Hamdani Harahap, di Medan, Senin (11/3).

Selain itu, menurut dia, BNN dan Polri juga harus memperkenalkan narkoba jenis baru kepada masyarakat yang tinggal di pedesaan, sehingga mereka terhindar dari barang haram tersebut.

"Melalui kegiatan pengenalan bahaya narkoba tersebut, warga yang tinggal di daerah pedesaan dapat terhindar dari pengaruh narkoba," ujar Hamdani.

Ia berharap kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia dapat semakin berkurang seperti yang diharapkan pemerintah dan masyarakat.

Sepanjang tahun 2015 kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia naik 13 persen dibandingkan tahun 2014 dengan jumlah 40.253 kasus.

"Peningkatan warga sebagai pemakai narkoba tersebut, dikarenakan masih banyaknya penyelundupan narkoba jenis sabu-sabu dari Malaysia ke Indonesia melalui jalur laut dan pulau-pulau terpencil," ucap dia.

Hamdani menyebutkan, barang yang dilarang pemerintah tersebut dibawa melalui kapal kayu oleh anggota penyelundup narkoba, dan sulit dipantau petugas kepolisian.

Di wilayah Provinsi Sumatera Utara (Sumut), sabu-sabu tersebut masuk melalui Pelabuhan Tanjung Balai/Asahan, Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai dan perairan Labuhan Batu.

"Memang selama ini Tanjung Balai/Asahan dikenal sebagai daerah peredaran dan penyeludupan narkoba dari Malaysia," katanya.

Sebelumnya, Tim Opsnal Sat Res Narkoba Polres Tanjung Balai, menembak mati dua orang membawa 15 kg narkoba jenis sabu-sabu, R (40) warga Jalan Suprapto Kota Tanjung Balai, dan Z (35) warga Trengganu, Malaysia.

Kapolres Tanjung Balai AKBP Irfan Rifai, dalam pemaparannya di Tanjung Balai, Rabu, mengatakan kedua tersangka itu, diberikan tindakan tegas dan terukur, karena berusaha melarikan diri ketika akan ditangkap petugas.

Saat ini, menurut dia, kedua jenazah tersangka berada di RSU Tengku Mansyur Tanjung Balai dan akan dibawa ke Pematang Siantar untuk autopsi.

"Petugas masih melakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan narkoba, dan mengirimkan surat pemberitahuan ke Konjen Malaysia di Medan atas penangkapan warga asing itu," ujar AKBP Irfan.

Ia menjelaskan, penangkapan narkoba itu, berdasarkan informasi yang disampaikan masyarakat, bahwa ada beberapa orang laki-laki membawa narkoba dari Malaysia melalui pelabuhan tikus wilayah Kelurahan Beting Kuala Kapuas, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjung Balai.
 

Editor. Sunardi Panjaitan

GranatSumatera UtaraNarkobaBNN

 

 

Baca Juga