menu

Budayawan: Makna Sakral yang Pudar Dibalik Lebaran Betawi

Hiburan
Senin, 22 Juli 2019, 12:30 WIB
Penulis. Ahmad Fiqi Purba


Budayawan: Makna Sakral yang Pudar Dibalik Lebaran Betawi

Pawai ondel-ondel saat perayaan Lebaran Betawi ke-12 tahun 2019 di Lapangan Silang Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu (21/7/2019). Perayaan Lebaran Betawi yang berlangsung 19-21 Juli 2019 tersebut untuk melestarikan berbagai kebudayaan khas Betawi meliputi beragam kesenian dan kuliner. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/ama)

SOKSINEWS.COM, Budawayan Betawi, Saiful Amri, mengungkapkan ada makna sakral di balik perayaan Lebaran Betawi yang mulai memudar yakni pelaksanaan syariat agama berupa puasa Syawal selama enam hari setelah Idul Fitri.

Amri, menjelaskan, dua hari setelah lebaran Idul Fitri biasanya orang Betawi melaksanakan puasa Syawal selama enam hari. Setelah selesai melaksanakan puasa tersebut, barulah orang-orang Betawi merayakan lebaran untuk kedua kalinya yang kemudian dikenal sebagai Lebaran Betawi.

"Jadi memang seminggu setelah lebaran resmi, masih banyak orang yang saling berkunjung ke rumah saudara yang dikenal sebagai Lebaran Betawi. Tentunya waktu itu masih banyak orang Betawi di Jakarta. Seiring waktu banyak warga yang tergusur, maka atas inisiatif Gubernur Fauzi Bowo diadakanlah acara Lebaran Betawi yang hingga saat ini sudah yang ke-12 kali dilaksanakan," jelas Amri dalam keterngan pers, Senin (22/7/2019).

Amri berharap perayaan Lebaran Betawi tidak sekadar ajang formalitas menampilkan berbagai kebudayaan Betawi tetapi juga tetap mengedepankan makna sakral dari puasa Syawal yang dijalankan sebelumnya.

"Puasa Syawal itu lebih berat godaannya dibandingkan dengan puasa Ramadhan. Sayangnya zaman sekarang mungkin banyak yang melupakan inti dari perayaan Lebaran Betawi yang menyiratkan pelaksanaan puasa Syawal," katanya.

Tahun ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memusatkan kegiatan perayaan Lebaran Betawi di Lapangan Silang Monas selama tiga hari yang puncaknya pada Minggu (21/7).

Pemprov DKI menggelar ajang tersebut dengan tujuan memperkuat persaudaraan warga Jakarta sekaligus melestarikan berbagai kesenian dan makanan khas Betawi.[]

Editor. Sunardi Panjaitan

BetawiBudaya

 

 

Baca Juga